Jambidalamberita.id, Jambi – Kondisi lingkungan di Provinsi Jambi kian mengkhawatirkan.
Dalam kurun lebih dari lima dekade terakhir, luas hutan di wilayah ini terus menyusut hingga mencapai jutaan hektare.
Data terbaru menunjukkan Jambi telah kehilangan sekitar 2,5 juta hektare hutan, menyisakan tutupan hutan kurang dari seperlima total daratan.
Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mengungkapkan, saat ini hutan yang masih bertahan hanya sekitar 929.899 hektare atau 18,5 persen dari luas wilayah Jambi.
Penyusutan ini berlangsung cepat, bahkan dalam 10 tahun terakhir saja, hutan yang hilang mencapai 112.372 hektare, setara dengan sekitar sepuluh kali luas Kota Jambi.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, menyebut kondisi tersebut menempatkan Jambi dalam situasi darurat ekologis.
Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi berpotensi memicu bencana secara berantai dengan dampak jangka panjang dan biaya pemulihan yang sangat besar.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan skala besar, khususnya sawit, menjadi penyebab utama berkurangnya kawasan hutan.
Selain itu, ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan turut mempercepat degradasi lingkungan.
Aktivitas pertambangan dinilai memperparah kondisi bentang alam Jambi. Hingga 2025, pembukaan lahan akibat pertambangan batubara diperkirakan telah mencapai sekitar 16 ribu hektare, tersebar baik di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan.
Sementara itu, praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) terindikasi merusak lebih dari 60 ribu hektare lahan, termasuk di areal penggunaan lain hingga kawasan taman nasional.
Kerusakan hutan dan aktivitas tambang juga berdampak langsung pada sistem hidrologi. Sungai-sungai di Jambi mengalami pelebaran alur akibat sedimentasi material tambang, sehingga daya tampung air menurun drastis. Saat hujan dengan intensitas tinggi, sungai menjadi lebih mudah meluap.