Ancaman ini muncul di tengah meningkatnya upaya negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Wacana dedolarisasi semakin menguat setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap Rusia pada 2022 menyusul "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina.
Upaya Dedolarisasi BRICS
Para pemimpin BRICS, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, telah menyatakan komitmen mereka untuk memperkenalkan sistem pembayaran alternatif yang tidak bergantung pada dolar AS.
“Kami sedang mencari kemungkinan untuk memperluas penggunaan mata uang dan penyelesaian nasional serta ingin membangun alat yang akan membuat sistem ini cukup aman dan terjamin,” ujar Putin dalam KTT BRICS di Kazan, Rusia, tahun 2024 lalu.
Menurut Putin, BRICS berupaya menyusun pengaturan pembayaran dengan kerja sama bank-bank sentral dari negara-negara anggotanya. Salah satu agenda utama dalam KTT tersebut adalah membangun sistem alternatif bagi SWIFT, sistem pembayaran internasional yang dikelola oleh Barat. Rusia sendiri dikeluarkan dari SWIFT setelah invasi ke Ukraina, sehingga semakin mendorong upaya pencarian sistem alternatif.
Dengan langkah-langkah ini, BRICS ingin menciptakan sistem pembayaran yang lebih aman di antara negara-negara anggotanya, tanpa ketergantungan penuh pada dolar AS. Namun, dengan ancaman baru dari Trump, masa depan upaya dedolarisasi ini masih penuh tantangan.*