Fakta-fakta Terkuak Dibalik Misteri Koper Merah di Ngawi, Kasus Mutilasi yang Menggemparkan

Reporter: Doni prima Putra - Editor: Doni prima Putra
- Selasa, 28 Januari 2025, 02:45 PM
Tersangka RTH

Jambidalamberita.id, Ngawi - Seorang perempuan berinisial UK ditemukan tewas dalam keadaan termutilasi di sebuah koper merah yang dibuang di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Penemuan ini terjadi pada Kamis (23/01) dan langsung memicu kehebohan di masyarakat. Polisi bergerak cepat dan berhasil menangkap pelaku berinisial RTH alias A pada Minggu (26/01). Kini, pelaku menghadapi ancaman hukuman mati. Namun, pertanyaan besar yang muncul adalah, apa yang memicu pelaku melakukan tindakan keji ini?

Kronologi Kejadian

Menurut keterangan kepolisian, peristiwa tragis ini bermula ketika RTH mengajak korban bertemu di sebuah hotel di Kota Kediri pada Minggu (19/01). Pertemuan ini berubah menjadi tragedi ketika percekcokan terjadi di antara keduanya. RTH mencekik korban hingga tewas pada sekitar pukul 23.30 WIB.

Setelah menyadari korban telah meninggal, RTH menghubungi seorang kerabatnya, MAM, untuk meminta bantuan. Kerabat tersebut mengantar RTH pulang ke rumahnya di Tulungagung, di mana RTH mengambil koper merah, tali, dan kantong kresek. Ia juga membeli pisau yang kemudian digunakan untuk memutilasi tubuh korban. Tindakan mutilasi dilakukan di kamar hotel tersebut.

Bagian tubuh korban dibuang di tiga lokasi berbeda. Koper merah berisi tubuh korban ditemukan di Kabupaten Ngawi, kaki korban dibuang di hutan Sampung, Ponorogo, dan kepala korban ditemukan di Desa Gemahharjo, Trenggalek.

Baca Juga : Heboh Tahanan Kasus Curanmor dan Senpi Ilegal Kabur dari Polres Muaro Jambi

Motif Pembunuhan

Dirreskrimum Polda Jatim, Kombes M Farman, mengungkapkan bahwa motif utama pembunuhan ini adalah rasa sakit hati dan cemburu. RTH yang mengaku sebagai suami siri korban merasa tersinggung setelah mengetahui korban membawa laki-laki lain ke kosannya. Selain itu, korban juga dikabarkan pernah mendoakan hal buruk terhadap anak perempuan RTH, yang semakin memicu kemarahan pelaku.

"Korban pernah berucap mendoakan anak pelaku menjadi PSK ketika besar nanti. Korban juga meminta pelaku untuk menghilangkan anak tersebut. Hal ini membuat pelaku merasa sakit hati," jelas Kombes Farman.

Halaman:

Tags

Berita Terkait

X